Banyak manfaat DevOps dinikmati oleh organisasi berbasis teknologi dalam percepatan pengembangan sistem dan aplikasi mereka. Tuntutan bisnis yang deras memaksa tim IT operations untuk bekerja lebih cepat dalam menerima dan mengelola operasional aplikasi dalam Data Center - DC mereka. Di lain pihak tim IT operations - Ops juga dituntut untuk menjaga stabilititas dan realibilitas. Sebelum terapkan DevOps, organisasi itu akan mengenal kalau developer itu ingin cepat dan banyak apps Go - Live tapi IT Ops akan tahan itu sebelum IT Ops paham betul bagaimana mereka kelola apps yang baru, khususnya mengatasi problem kalau ada gangguan sistem. Setelah terapkan DevOps, hambatan ini tidak perlu lagi terjadi. Tim developer dan ops bisa bekerja sama dalam meluncurkan apps ke publik tanpa korbankan stabilititas dan reliabilitas.
Untuk sampai pada tahap DevOps final, ternyata diperlukan beberapa perubahan pola pikir. Tiga di antaranya adalah ;
1. Menerima Kegagalan itu Normal
Kita sudah terlalu lama dididik kalau gagal itu tidak normal. Kalau gagal perlu harus dieliminasi. Sehingga banyak orang takut untuk mencoba dan menciptakan gagasan baru. Hanya karena takut gagal. Harga kegagalan itu sangat mahal bagi mereka.
Padahal sistem komputer adalah sistem yang tidak sempurna. Sama sama buatan manusia. Bisa dibayangkan bila ada sistem operasional yang menempatkan sistem komputer dan manusia. Sudah pasti sistem itu tidak akan sempurna. Oleh karena itu ada banyak perangkat, kiat, standard dan prosedur yang diterapkan agar sistem operasional mendekati sempurna.
Di dalam DevOps, error atau kegagalan adalah informasi yang paling berharga. Bahkan ada tim yang tugasnya hanya menggali error nya dimana. Ya.... berharga karena kegagalan akan dipakai untuk memperbaiki sistem. Tanpa ada catatan pernah gagal, sulit dipercaya ada sistem sempurna.
2. Memakai Tools dan Automatisasi
Yang menarik adalah bakal ada banyak tugas setiap tahun untuk mengatasi masalah dalam sistem. Khususnya sistem komputer, kini banyak dikenal tools atau apps alat bantu. Salah contoh yang banyak dipakai misalnya untuk melakukan pendeteksian virus, melaporkan sekaligus memberikan alternatif pembersihan virus. Software anti virus ini banyak dikenal sebagai tools dari operating system. Tidak hanya sebagai alat bantu tetapi juga tools ini bekerja otomatis 24x7. Memastikan tidak ada gangguan akan ancaman virus atau malware.
Masih banyak lagi yang bisa dilakukan... intinya kalau bisa otomatis kenapa mesti manual. Bakal banyak lagi masalah yang akan dihadapi tahun depan...
3. Mengukur Segalanya
Untuk mencegah kegagalan terjadi dan untuk mendapatkan data lengkap ketik kegagalan terjadi, kita perlu alat ukur. Rasa ingin tahu yang besar akan menolong kita untuk menempatkan alat ukur dan monitoring dimana mana. Karena sudah mampu menerima bahwa error itu biasa maka ketika evaluasi kegagalan dilakukan (Post Mortem Review) tidak akan ada lempar kesalahan dan menunjuk orang yang salah. Ingat kita bekerja dalam sistem, manusia tidak sempurna, maka buat sesuatu agar tidak terjadi lagi kegagalan atau kesalahan.
Dengan mengukur, maka harga sebuah kegagalan dapat diukur atau dinilai setara dengan uang. Selanjutkan anda dapat tetapkan budget atau anggaran, toleransi sampai sejauh mana kegagalan itu bisa diterima atau disepakati. Jika ini tahap ini sudah dicapai maka prioritas anggaran sistem komputer dapat ditentukan dengan mudah dan tidak perlu dipolitisasi. (baca : Service Level)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar