Minggu, 14 April 2019

Dari Box Server sampai HCI


Perkembangan sistem software atau perangkat lunak atau aplikasi untuk kelas PC dimulai sejak ditemukannya operating system. Windows bersaing bersama OS lain terus menerus menarik minat pemakainya diseluruh dunia. Tanpa OS sebuah aplikasi kelas PC tidak bisa bekerja. Dengan cepat aplikasi personal sebuah PC tumbuh sangat pesat. Sementara kebutuhan bisnis untuk menghubungkan banyak pemakai juga semakin pesat. Lahirlah konsep file server, atau client server.


Client Server meminta sebuah perangkat computer berkapasitas besar dan performa tinggi untuk menyimpan OS dan sistem jaringan. Juga diperlukan sistem database untuk aplikasi mengolah data. Jadilah sebuah file server. File server ini akan terhubung pada banyak pemakai yang disebut client. Dalam perkembangannya aplikasi client server ini cukup sulit untuk berkembang. Selain terpasang pada file server, aplikasi juga terpasang pada client atau PC. Sehingga ketika ada perubahan diperlukan usaha untuk mengupdate belasan sampai puluhan PC. Masalahnya menjadi semakin besar ketika OS melakukan perubahan. Misalnya ketika anti virus / malware ingin dipasang. Mutlak seluruh aplikasi yang ada harus diperbarui. Puluhan sampai ratusan PC harus diganti. Bisa dibayangkan berapa banyak tenaga dan waktu yang diperlukan untuk merawat aplikasi ini.


Diperkenalkannya internet kepada dunia rupanya mengubah cara orang melakukan pengembangan aplikasi. Dengan adanya internet, aplikasi dapat diakses oleh PC lain yang jaraknya ribuan kilometer. Sedangkan PC itu tidak perlu menanamkan aplikasi apa apa, cukup dengan sebuah browser. Sayangnya konsep ini banyak ditentang pebisnis. Aplikasi internet terkoneksi oleh jaringan publik, bukan privat. Security menjadi masalah utama. Kecemasan akan data dan network security menjadi hal penting ketika orang bicara internet.

Beberapa produk berhasil untuk memasukkan aplikasi internet ke dalam bisnis yang bersifat privat. File server yang dibangun memakai teknologi IP dan menerapkan teknologi jaringan privat atau local demi menjaga kerahasiaan dan keamanan data. Begitu banyak konsep teknologi diterapkan, orang makin sadar bahwa banyak server box yang harus dibuat dan dirangkai. Dalam rak rak computer dalam data center perusahaan ditemukan berbagai macam ragam box dengan berbagai OS dan sistem jaringan. Perusahaan yang sangat tergantung pada tata kelola data macam bank, badan pemerintahan, asuransi, dan lembaga keuangan lain dalam waktu singkat memiliki museum teknologi. Desakan penjual OS Windows, Linux, Database Oracle yang ingin menggantikan legacy system macam AS400 dan main frame, membuat perusahaan memiliki ratusan aplikasi penting yang melekat pada server box nya masing masing. Untunglah banyak usaha dilakukan untuk melakukan konvergensi aplikasi berbasis jaringan IP sehingga berbagai macam layanan sistem komputer dapat dijalan pada satu jaringan yang sama. Konsep 7 layer OSI ini merombak rupa rupa kabel jaringan sistem menjadi satu jenis kabel yang saja.


Kehandalan sistem menjadi masalah utama ketika konvergensi diterapkan. Gara – gara satu kabel putus ratusan aplikasi tidak bisa diakses alias system down. Konsep disaster recovery hadir untuk memastikan tim IT dapat terus menyajikan sistem dalam keadaan darurat atau bencana.Server Back Up atau cadangan dirperlukan untuk memastikan aplikasi tetap hidup walau ada bencana. Bisa dibayangkan berapa server yang anda perlukan jika anda memiliki 200 aplikasi. Berapa rak yang harus anda siapkan, berapa besar ruang data center anda, berapa besar tenaga listrik dan cadangannya dan berapa besar kapasitas AC untuk mendinginkan semua server itu.

Di antara maraknya penjual teknologi komputer, salah satu fokus pada konsep virtualisasi. Aplikasi tidak harus beroperasi pada mesin fisik. Sedangkan dalam satu fisik file server bisa dibuat beberapa file server baru. Konsep ini menjadi terobosan untuk memperkecil skala data center, menghemat listrik dan biaya operasional. Sebuah file server yang memiliki banyak core CPU dan RAM bisa dibelah belah untuk banyak file server kecil. Ditambah dengan teknologi jaringan berpita lebar, konsep virtualisasi tidak hanya bekerja pada satu fisik mesin. Belakangan sistem penyimpanan data atau storage juga menerapkan konsep virtualisasi. Tidak hanya satu mesin storage tapi bisa dipecah pecah pada beberapa mesin storage.Bisa dibayangkan bahwa sebuah aplikasi kini letaknya bisa tersebar pada beberapa mesin, di beberapa lokasi.


Banyak keuntungan dengan konsep virtualisasi mesin ini;
  1. Kehandalan sistem menjadi lebih tinggi. Skenario Disaster Recovery (DR) dapat anda buat dalam sistem virtualisasi. Pengalihan server dari mesin utama ke mesin back up bisa dilakukan otomatis tanpa sempat membuat sistem jatuh.
  2. Perawatan mesin dapat dilakukan kapan saja tanpa menunggu pemakai berhenti bekerja
  3. Back up data bisa dilakukan lebih cepat karena jaringan pita lebar tersedia untuk layanan back up data
  4. Praktek latihan DR bisa dilakukan kapan saja tanpa mengganggu aplikasi lain
Konsep penyebaran komponen mesin dalam konsep virtualisasi juga memakai konsep bagaimana sistem penyimpanan data dilakukan. Bila dalam hard disk server dikenal RAID0, RAID1 RAID5 sampai RAID10 maka dalam replikasi data / aplikasi sistem virtuall juga menerapkan konsep RAID ini. Alhasil semakin banyak saja box mesin fisik yang diperlukan. 




Muncullah konsep HCI (hyper converged infrastructure). Konsep untuk memperkecil rangkaian box server dan jaringan agar lebih banyak lagi kapasitas mesin virtual yang dapat dibangun. Skala yang bisa dicapai sudah sampai ratusan. Bisa dibayangkan jika anda perlu 100 rak server, untuk hampir seribu aplikasi, kini anda perlu 1 rak saja. Sudah terbayang berapa efisiensi yang bisa anda dapat ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar